‘Jamret’ Band’: Catatan Pinggir Skena Rock Palembang dan Riuh Rendah GOR Sporthall 2003
Oleh: Dedy Kariema Jaya
Waktu boleh berjalan maju, namun ingatan kolektif tentang masa muda yang berisik tidak akan pernah benar-benar redup. Bagi anak muda Kota Palembang yang melewati fase remaja dan kedewasaan di awal era 2000-an, kawasan GOR Sporthall di Jalan POM IX bukan sekadar pusat kuliner malam atau tempat nongkrong biasa. Tempat itu adalah saksi bisu, kawah candradimuka bagi gemuruh musik cadas independen Sumatera Selatan.
Tahun 2003 adalah masa di mana distorsi gitar berkuasa penuh. Euforia band rock legendaris tanah air, Jamrud, sedang berada di puncaknya pasca-album Ningrat dan Sydney 07. Di tengah demam rock itulah, kami—pemuda Palembang yang dipersatukan oleh kecintaan pada musik—konsisten mengibarkan bendera sebuah band pelesetan yang dengan jenaka kami namai: Jamret (kadang kami sebut Jambret atau Jamred).

Keterangan foto:
Kiri ke Kanan: Petrus (Gitar 2), DKJ (Bass), Indramaya (Vocal), Acang (drum), Romi Setiawan (Gitar 1)

Sebagai band tribute penghormatan untuk Jamrud, misi kami saat itu sederhana: membakar panggung dan menghibur massa. Namun siapa sangka, nama pelesetan ini justru membawa kami menembus panggung-panggung festival rock bergengsi yang diinisiasi oleh sponsor raksasa era itu, Djarum Super.
Dari Kisah Cyber Tech 2000 hingga Gemuruh Sporthall 2003
Perjalanan Jamret sebenarnya sudah mengakar sejak pergantian milenium. Sebuah foto dokumentasi berlima yang ikonik menampilkan kami dengan fashion khas anak rock—kacamata hitam, rambut gondrong, dan kaos band—berdiri tegap menghadap kamera. Di foto itu, sosok Petrus Pamostang Laut Sihotang berdiri di paling kiri. Dokumen visual tersebut diambil saat kami bersiap mengikuti ajang kompetisi bertajuk Festival Rock Cyber Tech tahun 2000 yang digelar oleh Universitas Bina Darma Palembang.
Waktu bergulir, dan dinamika formasi pun terjadi. Memasuki pertengahan tahun 2003, posisi gitar pendamping tidak lagi diisi oleh Petrus, melainkan digantikan secara penuh oleh Achmad Fuady Rahmat. Bersama Romi Setiawan sebagai gitaris utama yang mengawal melodi, ketukan drum Ferry Irawan, lengkingan vokal Indramaya, dan cabikan bass saya sendiri, formasi inilah yang siap menghentak panggung-panggung besar Djarum Super.
Aksi intens kami di tahun 2003 dimulai pada Sabtu malam, 7 Juni 2003, dalam gelaran Djarum Super Rendezvouz yang dihelat langsung on the street di kawasan Kampus, Jalan POM IX. Kami berbagi energi bersama band lokal lain seperti Indigo dan Black Forrest di hadapan komunitas otomotif, skater, dan BMX Palembang.
Puncaknya terjadi pada Minggu siang, 27 Juli 2003. Gedung indoor GOR Sporthall Palembang bergetar hebat dalam ajang Djarum Super Have Fun Go Rock Concert 2003. Jamret terpilih menjadi satu dari lima band lokal yang diberi panggung resmi untuk “unjuk gigi” bersama Melodius, Syntetiz, Dimensi, dan Bintaro.
Saat nomor-nomor cadas seperti “Go To Hell” dan “Bising” diledakkan oleh petikan gitar Romi Setiawan dan Fuady Rahmat, atmosfer indoor yang pengap langsung berubah menjadi moshing pit massal. Di tengah riuhnya energi penonton, sebuah insiden panggung yang tidak akan pernah kami lupakan terjadi. Indramaya, sang vokalis yang tampil totalitas meniru lengkingan serak basah Krisyanto, melangkah terlalu maju ke bibir panggung. Ia menginjak speaker monitor—atau yang akrab kami sebut “salon”—hingga kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh terjungkal dari panggung.
Detik-detik menegangkan itu justru menjadi pembuktian mental kami. Tanpa interupsi sedikit pun, Indramaya langsung bangkit dan melanjutkan bait liriknya tanpa putus. Saya dan Ferry Irawan di lini ritme langsung merespons spontan dengan ketukan drum dan cabikan bass yang semakin bertenaga demi menjaga tempo lagu. Alih-alih dicemooh, profesionalisme darurat itu justru memicu gemuruh respek dan tepuk tangan paling riuh dari ribuan penonton siang itu.
Malamnya, setelah energi terkuras habis dan lampu panggung padam, kami berkumpul di warung tenda nasi goreng pinggir jalan sekitar POM IX. Bermodalkan gitar akustik kopong, kami kembali “ngamen” spontan, bernyanyi bersama para pelanggan dan pedagang kaki lima lewat lagu Pelangi di Matamu. Setelah perut terisi dan malam semakin larut, kami pun pulang membelah jalanan kota Palembang, berboncengan menggunakan kendaraan roda dua milik Indramaya.
Dua Dekade Setelah Distorsi Padam
Dua puluh tiga tahun berlalu sejak riuhnya tepuk tangan di Sporthall, waktu telah membawa kami masing-masing ke garis takdir yang berbeda. Skena musik rock telah bertransformasi, dan kami pun tumbuh menjadi abdi masyarakat dan pelaku profesional di bidangnya:
• Indramaya (Vokal): Kini aktif sebagai entrepreneur mandiri yang bergerak di dunia bisnis jual beli kendaraan, setelah sebelumnya sempat bekerja di PT Pusri.
• Romi Setiawan (Gitar Utama): Masih setia mengabdi sebagai karyawan profesional di Bank Sumsel Babel Palembang.
• Achmad Fuady Rahmat (Gitar Pendamping): Penyelamat lini gitar yang mengawal rapi dua panggung Djarum Super di tahun 2003.
• Ferry Irawan (Drum): Sang penjaga tempo yang kini aktif bergerak di dunia swasta sebagai kontraktor di Palembang.
• Dedy Kariema Jaya (Bass): Penulis sendiri, yang setelah sempat mencicipi ruang redaksi sebagai Pemimpin Redaksi Koran Musirawas Ekspres pada 2018, kini mendapat amanah negara menjabat sebagai Ketua Bawaslu Kota Lubuklinggau sejak 2023 hingga sekarang.
Kesibukan kedinasan dan dunia profesional memang membuat kami sudah sangat jarang bertatap muka untuk sekadar memainkan chord musik. Namun, setiap kali lembaran pamflet usang Djarum Super tahun 2003 atau foto Cyber Tech tahun 2000 itu kembali terbuka, kami selalu tahu bahwa ada sebagian kecil dari jiwa kami yang akan selalu tertinggal di atas panggung rock Kota Palembang. Kami pernah bising, kami pernah merdeka, dan sejarah kecil itu akan tetap abadi. Salam Rock


